Rabu, 06 Juni 2012

PENDEKATAN TRADISIONAL UNTUK PERUMUSAN TEORI AKUNTANSI


 A.     Hakikat Akuntansi: Berbagai Pandangan
Akuntansi sebagai seni maupun sebagai aktivitas jasa dan secara tidak langsung menyatakan bahwa akuntansi mencakup sekumpulan teknik yang dianggap bermanfat untuk suatu bidang tertentu. The Handbook of Accounting mengidentifikasi berbagai bidang yang memanfaatkan akuntansi yaitu: laporan keuangan, penentuan dan perencanaan pajak, audit independent, system-sistem pemrosesan data dan informasi, akuntansi biaya dan manajemen, akuntansi pendapatan nasional, dan konsultasi manajemen.
            Para akuntan memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang proses akuntansi dalam menguraikan perbedaan teori-teori akuntansi. Beberapa pandangan tersebut antara lain:
1.      Akuntansi sebagai ideologi
Ideologi merupakan pandangan umum yang terlepas dari wawasannya yang perihal dan mungkin penting, mencegah kita untuk memahami masyarakat di mana kita tinggal dan kemungkinan untuk mengubahnya.
Akuntansi dipandang sebagai suatu fenomena ideology sebagai suatu sarana untuk mempertahankan dan melegimitasi aturan-aturan social, ekonomi dan politik yang berlaku saat ini.
Persepsi akuntansi sebagai instrument rasionalitas ekonomi digambarkan dengan sangat baik oleh Weber, yang mendefinisikan rasionalitas formal dari suatu tindakan ekonomi sebagai “tingkat samapi sejauh mana perhitungan kuantitatif atau akuntansi mungkin dilakukan secara teknis dan secara nyata dapat diterapkan”
2.      Akuntansi sebagai bahasa
Akuntansi adalah satu alat mengkomunikasikan informasi suatu bisnis. Persepsi akuntansi sebagai bahasa ini juga diakui oleh profesi akuntansi, yang menerbitkan bulletin terminilogi akuntansi. Hal ini juga diakui dalam literature empiris, yang mencoba untuk mengukur komunikasi dari konsep akuntansi.
Hal itu mungkin dapat dibuktikan sebagai berikut :
a.       Symbol / Karakter Leksikal dari suatu bahasa adalah unit-unit atau kata-kata “yang memiliki arti” dan dapat diidentifikasikan dalam bahasa mana pun.
b.      Aturan tata bahasa dari suatu bahasa mengacu pada pengaturan sintaksis pada bahasa apa pun.
3.      Akuntansi sebagai catatan historis
Umumnya, akuntansi telah dipandang sebagai suatu sarana penyediaan sejarah/historis (history) suatu organisasi dan transaksi-transaksinya dengan lingkungannya. Baik bagi pemilik maupun pemegang saham perusahaan, pencatatan akuntansi menyediakan suatu sejarah kepengurusan manjer terhadap sumber daya pemilik. Binberg membedakannya menjadi empat periode :
a.       Periode Pemeliharaan Murni
b.      Periode Pemeliharaan Tradisional
c.       Periode Utilisasi Aktiva
d.      Periode Terbuka
4.      Akuntansi sebagai realitas ekonomi masa kini
Akuntansi juga telah dipandang sebagai suatu sarana untuk mencerminkan realitas ekonomi masa kini. Tesis utama dari pandangan ini adalah bahwa baik neraca maupun laporan laba rugi harus didasarkan pada suatu basis penilaian yang lebih mencerminkan kenyataan ekonomi daripada biaya historis. Tujuan utama dari gambaran akuntansi ini adalah penentuan laba yang sebenarnya, suatu konsep yang mencerminkan perubahan kesejahteraan perusahaan pada suatu periode waktu.
5.      Akuntansi Sebagai Sistem Informasi
Akuntansi sebagai proses yang menghubungkan sumber informasi atau transmitter (biasanya akuntan), saluran komunikasi, dan sekumpulan penerima (pengguna eksternal). Pandangan ini memberikan manfaat yang penting baik secara konseptual maupun secara empiris, (1) pandangan ini mengasumsikan bahwa system akuntansi merupakan satu-satunya system pengukuran formal dalam organisasi, (2) pandangan ini memunculkan kemungkinan desain system akuntansi yang optimal yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan informasi yang bermanfaat.
6.      Akutansi sebagai komoditas
Akutansi juga dipandang sebagai suatu komoditas yang merupakan hasil dari suatu aktivitas ekonomi. Akutansi ada karena terdapat permintaan akan informasi khusus dan akuntan mau dan mampu untuk menghasilkannya.
7.      Akutansi sebagai mitos
Akutansi menciptakan mitos yang merupakan cara mudah memahami dunia ekonomi dan menjelaskan fenomena kompleks. Melalui akutansi, suatu fenomena ekonomi kompleks diterjemahkan bagi para pengguna dengan cara yang lebih mudah dan dapat dimengerti, sehingga menciptakan lebih banyak mitos dari pada kenyataan.
8.      Akutansi sebagai alasan logis
Akutansi mungkin digunakan untuk melekatkan makna terhadap peristiwa dan karenanya menyediakan suatu justifikasi bagi kejadian mereka di masa mendatang, dengan adanya ketidaktepatan dan ketidakpastian yang melingkupi kebanyakan angka akutansi, akutansi mungkin digunakan sebagai suatu cara untuk melegimitasi pemunculannya. Oleh sebab itu, akutansi menjadi suatu perisai jaminan atau sertifikasi otoritas terhadap angka tersebut dan menyediakan suatu alas an pemikiran atas tindakan yang berdasar pada angka tersebut.
9.      Akuntansi sebagai perumpamaan
Akuntansi memberikan kontribusi terhadap penciptaan suatu gambaran atau citra dari organisasi. Akuntansi bertindak sebagai suatu gambaran organisasi melalui peristiwa yang telah diseleksi dan transaksi yang terjadi di organisasi. Konsekuensinya adalah timbul perasaan akan pentingnya akuntansi dan konsepsi tertentu mengenai realitas organisasi.
10.  Akuntansi sebagai percobaan
Akuntansi cukup fleksibel untuk mengekomodasi berbagai situasi, mengadaptasi solusi-solusi baru untuk masalah baru, dan beradaptasi terhadap kasus-kasus yang paling kompleks. Perusahaan-perusahaan dapat melakukan percobaan melalui pemakaian data, teknik, laporan atau pengungkapan akuntansi yang berbeda agar sesuai dengan lingkungan tertentu yang mereka miliki dan untuk beradaptasi terhadap kondisi yang berubah, dan bukannya terhamnat atau terpaku kepada pendekatan konvensional yang sama. Akuntansi merupakan percobaan terutama ketika ia bersifat sukarela, inovatif dan tentative.
11.  Akuntansi sebagai distorsi
Karena akuntansi digunakan untuk mengendalikan atau memengaruhi tindakan-tindakan baik dari pengguna internal maupun eksternal, akuntansi menjadi sasaran ideal bagi pihak-pihak yang mencoba untuk memanipulasi arti dari pesan yang akan dilihat oleh pengguna. Terdapat empat kelompokyang mungkin memengaruhi atau dipengaruhi oleh pesan-pesan akuntansi : subjek yang perilakunya memberikan data bagi pesan-pesan akuntansi, akuntan yang menyiapkan data, akuntan yang memeriksa data dan penerima data.
Tindakan disfungsional berupa manipulasi data ini disebut sebagai gangguan suara. Metode yang digunakan untuk mendistorsi system informasi dapat diklasifikasikan menjadi enam kategori besar berikut ini :
a.       Perataan atau penghalusan : mencakup proses pengubahan arus data alami atau terencana tanpa mengubah aktivitas actual dari organisasi.
b.      Pembiasan : mencakup proses pemilihan tanda-tanda yang memiliki kemungkinan paling besar untuk diterima dan dipilih oleh pengirim.
c.       Pemfokusan : mencakup proses baik penguatan ataupun pelemahan aspek-aspek tertentu dari sekumpulan informasi.
d.      Permainan : mencakup proses menyelesaikan aktivitas-aktivitas oleh pengirim sehingga menyebabkan terkirimnya pesan.
e.       Penyaringan : mencakup proses pemilihan aspek-aspek tertentu yang menguntungkan dari serangkaian informasi yang sama berharganya dari komunikasi melalui pengumpulan, penyajian, agregasi, penahanan, atau penundaan.
f.        Tindakan illegal : mencakup proses pemalsuan data dan akibatnya melanggar hukum privat atau public.
B.     Penyusunan dan Verifikasi Teori
Walaupun akuntansi merupakan sekumpulan teknik yang dapat digunakan dalam bidang spesifik, namun praktiknya dilakukan dalam kerangka konseptual implicit yang terdiri dari prinsip-prinsip dan praktik-praktik yang telah diterima oleh profesi, dikarenakan oleh kegunaan dan logika yang dikandungnya. Petunjuk yang disebut sebagai ‘prinsip-prinsio akuntansi berterima umum/PABU’ (Generally Accepted Accounting Principles/GAAP) ini mengarahkan profesi akuntansi dalam pemilihan teknik-teknik akuntansi dan dalam penyiapan laporan keuangan dengan suatu cara yang dianggap sebagai praktek terbaik. Teori seharusnya tunduk terhadap pengujian yang bersifat logis dan empiris untuk membuktikan keakuratannya. Jika suatu teori bersifat matematis, pembuktian sebaiknya diprediksi melalui konsistensi logis. Apabila teori didasarkan pada fenomena fisik atau social, pembuktiannya sebaiknya diprediksi melalui hubungan antara kejadian-kejadian dan observasi-observasi sesungguhnya yang digunakan untuk membuat kesimpulan. Suatu teori akuntansi seharusnya dapat menjelaskan dan memprediksi fenomena akuntansi yang ada: saat sejumlah fenomena muncul, fenomena-fenomena tersebut diharapkan dapat membuktikan kebenaran teori tersebut.
C.     Hakikat Teori Akuntansi
Tujuan utama dari teori akuntansi adalah memberikan basis bagi peramalan dan penjelasan perilaku dan peristiwa akuntansi. Kita asumsikan, sebagai salah satu pasal dari kepercayaan, bahwa teori akuntansi adalah suatu hal yang mungkin. Teori didefinisikan sebagai “ suatu rangkaian gagasan, difinisi dan usulan yang saling berhubungan yang melambangkan suatu pandangan sistematis atas fenomena melalui penentuan hubungan yang ada diantara variable-variabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
D.    Metodologi dalam Perumusan Teori Akuntansi
Kita sekarang telah menetapkan bahwa suatu teori akuntansi adalah mungkin jika (1) teori memberikan suatu kerangka referansi seperti yang disarankan oleh Hendriksen, dan (2) teori mencakup tiga elemen : pengodean fenomena ke dalam penyajian simbolis, manipulasi atau kombinasi yang mematuhi ataran tertentu, dan penerjemahan kembali ke fenomena dunia nyata, seperti yang disarankan oleh McDonald.
Akuntansi adalah suatu seni yang tidak dapat diformalisasikan dan bahwa metodologi yang digunakan dalam formulasi suatu teori akuntansi secara tradisional adalah usaha untuk menjustifikasikan apa yang telah terjadi dengan memodifikasikan praktek-praktek akuntansi. Teori tersebut dinamakan akuntansi deskriptif. Sedangkan akuntansi normative adalah teori akuntansi berusaha untuk menjustifikasikan apa yang seharusnya terjadi, bukan apa yang terjadi. Inventory of Generally Accepted Accounting Principles for Bussiness Enterprise (Paul Grady), Accounting Priciples Board (APB) Statement No 4 merupakan bentuk pendekatan deskriptif dalam akuntansi. A Statement of Basic Accounting Theory (American Accounting Association) merupakan bentuk pendekatan normative dari akuntansi.
E.     Pendekatan untuk Perumusan Teori Akuntansi
Walaupun belum ada satupun teori akuntansi yang komprehensif, namun berbagai teori akuntansi yang bersifat menengah atau setengah jadi telah dihasilkan melalui sejumlah pendekatan yang berbeda. Untuk menjamin kejelasan, kita akan membatasi diskusi dalam bab ini hanya pada pendekatan tradisional untuk menyusun teori akuntansi. Pendekatan-pendekatan tradisional ini meliputi:
1. Non Teoritis, praktis, atau pragmatis
2. Teoritis ;
a) Deduktif
b) Induktif
c) Etis
d) Sosiologi
e) Ekonomi
f) Seklektif

a.      Pendekatan nonteoretis.
Adalah suatu pendekatan pragmatis dan pendekatan kekuasaan.pendekatan pragmatis terdiri atas penyusunan suatu teori yang ditandai oleh kesamaan dengan praktik di dunis nyata yang berguna dalam artian memberikan solusi yang sifatnya praktis. Sedangkan pendekatan kekuasaan untuk merumuskan suatu teori akuntansi yang terutama dipergunakan oleh organisasi professional terdiri atas penerbitan pernyataan sebagai regulasi dari praktik-praktik akuntansi.
Pendekatan teori akuntansi merasionalisasikan pilihan dari teknik-teknik akuntansi yang berdasarkan atas pemeliharaan persamaan akuntansi. Pernyataan neraca biasanya dinyatakan sebagai :
AKTIVA = KEWAJIBAN + EKUITAS
Persamaan laba akuntansi biasanya dinyatakan sebagai :
LABA AKUNTANSI = PENDAPATAN –BEBAN
b.      Pendekatan deduktif
Pendekatan deduktif dalam penyususnan teori manapun diawali dengan dalil dasar dan diteruskan dengan pengambilan kesimpulan logis mengenai subjek yang dipertimbangkan. Langkah yang dipergunakan untuk memperoleh pendekatan dediktif akan meliputi : (1) menentukan tujuan dari laporan keuangan (2) memilih “postulat” dari akuntansi (3) menghasilkan “prinsip” dari akuntansi (4) mengembangkan “teknik” dari akuntansi
c.       Pendekatan Induktif
Pendekatan induktif dari penyususnan sebuah teori diawali dengan observasi dan pengukuran serta berlanjut pada kesimpulan umum. Pendekatan induktif untuk suatu teori mencakup empat tahap : (1) mencatat seluruh observasi (2) menganalisis dan mengklasifikasikan observasi ini untuk mendeteksi danya hubungan yang berulang kembali. (3) penurunan induktif dari generalisasi dan prinsip akuntansi dari observasi yang menggambarkan hubungan berulang. (4) menguji generalisasi.
Menarik untuk diingat bahwa walaupun pendekatan deduktif diawali dengan dalil umum, formulasi dari dalil sering diselesaikan dengan alas an induktif, dikondidikan oleh pengetahuan penulis, dan pengalamannya dengan praktik akuntansi.
d.      Pendekatan etis
Inti dasar dari pendekatan etis adalah terdiri dari konsep kewajaran, keadilan, ekuitas dan kenyataan. Konsep tersebut merupakan criteria utama dari D.R Scott untuk perumusan teori akuntansi.
e.      Pendekatan sosiologi
Pendekatan sosiologi bagi perumusan teori akuntansi menekankan pengaruh social dari teknik akuntansi. Hal ini merupakan pendekatan etis yang berpusat pada suatu konsep dari kewajaran yang lebih luas, kesejahteraan social. Berdasar pada pendekatan sosiologi, prinsip atau teknik akuntansi yang ada dievaluasi untuk penerimaan dari dasar pengaruh laporannya terhadap seluruh kelompok dalam komunitas.
f.  Pendekatan ekonomi
Pendekatan ekonomi dalam merumuskan suatu teori akuntansi menekankan pada pengendalian perilaku dari indicator-indokator makro ekomoni yang dihasilkan oleh adopsi dari berbagai teknik akuntansi. Ketika pendekatan etis berfokus pada suatu konsep “kewajaran” dan pendekatan sosiologi pada suatu konsep “ kesejahteraan social”, pendekatah ekonomi berfokus pada suatu konsep dari “ kesejahteraan ekonomi umum”.
Konsekuensi ekonomi dari laporan keuangan termasuk, antara lain : (1) dintribusi kesejahteraan (2) tingkat resiko agragat dan alokasi resiko diantara individu (3) konsumsi dan produksi agregat (4) alokasi sumber daya antar perusahaan (5) penggunaan sumber daya untuk produksi, sertifikasi, penyebaran, pemrosesan, analisis dan interpretasi dari informasi keuangan (6) penggunaan sumber daya dalam pengembangan, penyesuaian, penekanan, dan litigasi dari regulais, dan (7) penggunaan dari sumber daya dalam sektor privat mencari informasi.

F.      Pendekatan Selektif untuk Perumusan Teori Akuntansi
Secara umum, perumusan siatu teori akuntansi dan pengembangan prinsip-prinsip akuntansi telah mengikuti pendekatan selektif, atau kombinasi dari berbagai pendekatan. Pendekatan selektif ini telah memberikan peningkatan kepada pendekatan baru yang sedang diperdebatkan dalam literature : pendekatan peraturan, pendekatan perilaku serta pendekatan kejadian, prediksi da positif.


 KESIMPULAN

Pendekatan tradisonal terhadap perumusan suatu teori akuntansi telah menggunakan:

  1. metodologi metodologi normative atau metodologi deskriptif,
  2. suatu pendekatan teoritis atau nonteoritis,
  3. sutu bentuk alasan deduktif atau induktif, dan
  4. telah berfokus pada suatu konsep “kewajaran”, “kesejahteraan social”, atau “kesejahteraan ekonomi”.

Pendekatan tradisional telah berubah secara perlahan menjadi pendekatan selektif dan mulai digantikan oleh pendekatan – pendekatan yang lebih baru.


 DAFTAR PUSTAKA
Belkaoui, Ahmed Riahi. 2006. “Accounting Theory, Teori Akuntansi edisi 5”. Cengage Learning. Jakarta. Penerbit: Salemba Empat.
www.google.co.id/pendekatantradisionaluntukperumusanteoriakuntansi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar