Kamis, 14 Januari 2016

WASIAT DAN HIBAH



1.  Yang dimaksud wasiat adalah pemberian suatu benda dari pewaris kepada orang lain atau lembaga yang akan berlaku setelah pewaris meninggal dunia.

2.  Dasar hukum wasiat terdapat dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 180, Hadits Riwayat A1-Jamaah dari Sa'ad ibn Abi Waqqasli, dan ijtihad para mujtahid.

3.  Rukun dan Syarat Wasiat adalah sbb:
a. Orang yang berwasiat (mushi)
Mushi disyaratkan sudah dewasa (minimal berusia 21 tahun), berakal sehat, dan tanpa paksaan dalam berwasiat

b. Orang yang menerima wasiat (mushalahu)
Mushalahu disyaratkan harus dapat diketahui dengan jelas, telah wujud ketika wasiat dinyatakan, bukan untuk tujuan kemaksiatan, dan tidak membunuh mushi.

c. Sesuatu yang diwasiatkan (mushabihi)
Mushabihi harus memenuhi syarat sebagai berikut: dapat berlaku sebagai harta warisan atau dapat menjadi obyek perjanjian, sudah wujud ketika wasiat dinyatakan, milik mushi, dan jumlahnya maksimal 1/3 dari harta warisan kecuali semua ahli waris menyetujui.

d. Sighat/Ikrar
Ikrar wasiat dapat dinyatakan secara lisan, tertulis, maupun dengan isyarat.

4.  Wasiat dapat dibuat secara lisan di hadapan dua orang saksi atau secara tertulis di hadapan dua orang saksi atau di hadapan notaris.

5.  Wasiat menjadi batal apabila (Ps. 197 KHI)

a. Calon penerima wasiat:

  dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat pada pewasiat.
  dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewasiat telah melakukan suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman lima tahun penjara atau hukuman yang lebih berat.
  dipersalahkan dengan kekerasan atau ancaman mencegah pewasiat untuk kepentingan calon penerima wasiat.
  dipersalahkan telah menggelapkan atau merusak atau memalsukan surat wasiat dari pewasiat.

b. Orang yang ditunjuk untuk menerima wasiat:

  tidak mengetahui adanya wasiat tersebut sampai ia meninggal dunia sebelum meninggalnya pewasiat
  mengetahui adanya wasiat tersebut, tetapi ia menolak untuk menerimanya.
  mengetahui adanya wasiat tersebut, tetapi tidak pemah menyatakan menerima atau menolak sampai ia meninggal sebelum meninggalnya pewasiat.

c. Barang yang diwasiatkan musnah.

6.  Pencabutan Wasiat (Ps 199 KHI):

   Pewasiat dapat mencabut wasiatnya selama calon penerima wasiat belum menyatakan persetujuannya atau sudah menyatakan persetujuannya tetapi kemudian menarik kembali.
   Wasiat yang dibuat secara lisan dapat dicabut secara lisan dengan disaksikan oleh dua orang saksi atau tertulis dengan disaksikan oleh dua orang saksi atau berdasarkan akta notaris.
   Wasiat yang dibuat secara tertulis hanya dapat dicabut dengan tertulis dengan disaksikan oleh dua orang saksi atau berdasarkan akta notaris
   Wasiat yang dibuat berdasarkan akta notaris hanya dapat dicabut berdasarkan akta notaris.

7.  Wasiat Wajibah (Ps 209 KHI)

   Yang dimaksud wasiat wajibah adalah suatu wasiat yang dianggap telah dibuat oleh pewasiat meskipun sebenarnya pewasiat tidak pernah membuatnya. Wasiat wajibah ini ditujukan bagi orang tua angkat dan anak angkat, dengan jumlah maksimal 1/3 dari harta warisan.
     Ketentuannya adalah bahwa harta peninggalan anak angkat dibagi berdasarkan ketentuan yang ada (KHI), sedangkan bagi orang tua angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah maksimal 1/3 dari harta warisan anak angkatnya, sebaliknya terhadap anak angkat yang tidak menerima wasiat juga diberi wasiat wajibah maksimal 1/3 dari harta warisan orang tua angkatnya.

8.  Hibah

Yang dimaksud hibah adalah pemberian suatu benda secara suka rela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masih hidup untuk dimiliki.

9.  Rukun dan Syarat Hibah. 
  • Orang yang memberi hibah, syaratnya : minimal berusia 21 tahun, berakal sehat, dan bertindak tanpa paksaan
  • Orang yang menerima hibah
  • Barang yang dihibahkan, maksimal sebanyak 1/3 dari harta warisan
  • Sighat/ikrar.
10. Hibah dari orang tua kepada anaknya dapat diperhitungkan sebagai warisan.

11. Hibah tidak dapat ditarik kembali, kecuali hibah orang tua kepada anaknya.